Aliran Garis Keras Musik Metal: Ditolak Karena Melawan

Oleh: Jovin Sidabutar

Satanis, sex, narkoba, atheis, kekerasan dan lain-lain adalah tudingan yang diberikan umum terhadap aliran musik ini (Dunn, 2017). Musik metal selalu dianggap tidak memiliki hubungan sosio-kultural, musik ini tidak banyak dikonsumsi oleh masyarakat, malahan menerima hujatan. Jika saja kita banyak membaca sejarah musik di dunia, musik metal bukan sekedar nada yang terdiri dari komposisi instrumental dan vokal, jauh dari itu, musik metal merupakan refleksi atas kondisi sosial, terlebih kondisi politik di masyarakat. Penyampaian kritik melalui lirik merupakan jalur eksistensi kelompok-kelompok band aliran metal demi tercapainya aspirasi yang memiliki bobot sugesti. Bukan sekedar luapan emosi di atas panggung oleh para pemainnya, melainkan sebuah bentuk perlawaan, perlawanan terhadap budaya induk. Baca lebih lanjut

Iklan

Penistaan Agama Dalam Komoditas Politik

Oleh: Erik Malau

Akhir-akhir ini  kita sering mendengar kata penistaan agama dan kata itu mulai merekonstruksi pemikiran ketika media mempublikasi kasus penitaan agama. Padahal jika kita berpikir jernih dalam memahami dan mengkritisi apa makna penistaan dan  agama tentu kita tidak akan mudah terdoktrin oleh propaganda media atau kelompok tertentu yang ingin mengganggu integrasi kemajemukan masyarakat awam demi kepentingan mereka sendiri. Baca lebih lanjut

Sudah Merdeka, Tapi Belum Sejahtera?

Oleh: Ayu Silalahi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merdeka berarti bebas dari penajajahan. Setiap orang pasti menginginkan sebuah kemerdekaan atau sebut saja sebuah kebebasan, baik itu kemerdekaan beribadah sesuai keyakinan, membangun rumah tangga dengan orang yang dicintai, membeli atau mengkonsumsi produk sesuai keinginan, serta bahagia dengan cara mereka masing-masing. Tetapi sayangnyarealita yang terjadi, tidak semua individu merasakan kemerdekaan sekalipun itu negara yang mengklaim dirinya sudah merdeka. Baca lebih lanjut

Babak Baru Kapitalisme Global: Korporasi Vs Masyarakat Adat

Oleh :Mangasa H. Pasaribu 

Di zaman kapitalisme ini, tanah telah menjadi komoditi yang sangat berharga dan manusia yang menjadi masyarakat di kotak-kotakkan (klasifikasi) menjadi beberapa kelas yang memperebutkan tanah. Kali ini kita menggunakan pembagian kelas menurut kepemilikan alat produksi yaitu kelas pemilik (borjuasi) dengan kelas tidak pemilik (proletariat). Ke dua kelas ini selalu bertentangan atau sering disebut perjuangan kelas karena kepentingan yang sangat kontra. Baca lebih lanjut

Kritik Yang Mem”BONGKAR”

Oleh: Roy Goklas Ambarita

“Jika sebuah lagu dianggap mampu mewakili keadaan sosial, jika kesenian dianggap mampu mengungkap sejarah hingga ke titik paling autentik, maka lagu “Bongkar” adalah sebuah fakta tak terbantahkan”.

Siapa tak kenal Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal sebagai Iwan Fals si legenda musik Indonesia? Tentunya sedikit atau bahkan semua kenal sosok beliau sebagai musisi kawakan negara kita. Lahir pada 3 September 1931 di Jakarta. Iwan Fals tumbuh menjadi musisi sejak umur 13 tahun, karena dia adalah seorang pengamen pinggir jalan, hal itu dilakukan atas dasar keinginan dia untuk melatih bermain musik dan menciptakan sebuah lirik. Baca lebih lanjut

Mitos Sawah, Gunung dan Jalan

Oleh: Novi septiana Pasaribu

Masih ingat saat ada tugas mPersenbar saat sekolah? Pilihan pertama dan banyak orang menggambar Sawah, Gunung dan jalan. Ada beberapa yang menambahkan ibu dan bapak petani, matahari bulat atau setengah bulat, burung-burung kecil imut berterbangan diatas langit. Tentunya pilihan itu selalu muncul di kepala dan menjadi yang pertama. Padahal saat SMP baru saya melihat gunung dan masa SMA melihat sawah secara nyata. Baca lebih lanjut

Persiapan Diri untuk Pileg

Oleh: Boy Ture Sitanggang

Atmosfer pemilihan umum serentak tahun 2019 mulai terasa memasuki ruang-ruang kehidupan. Baik di kehidupan nyata dan kehidupan (A)nyata (baca: maya) bagaimana tidak, layaknya pesta demokrasi pemilu memang butuh persiapan. Persiapan panitia pemilu, objek pemilu, subjek pemilu, pengawas, penolak, sampai yang tidak peduli pemilu sekali pun butuh persiapan. Tidak peduli dengan pemilu juga adalah pilihan, jangan salah, dalam lingkup pesta demokrasi tidak peduli pemilu juga punya ruang tersendiri. Baca lebih lanjut